selamat datang

Makacih ya udh mw mengunjungi blog_Q....
meskipun cuma sdikit yang bisa Q bagi cz pengetahuanQ yang juga masih jauh dari cukup, Insya Allah yang sedikit ini bisa memberi manfaat... maaf kalo masih ditemukan banyak kesalahan dan kekurangan...
harap dimaklumi...
diharapkan komentarnya..._^

Selasa, 02 November 2010

PRAKTIKUM I, TEKANAN OSMOSIS CAIRAN DALAM SEL

 Tinjauan Pustaka
Terdapat dua proses fisika-kimia yang terjadi yaitu difusi dan osmosis. Dengan adanya proses difusi suatu selaput dinyatakan permeable ataupun semipermeabel. Osmosis merupakan suatu proses difusi melewati suatu selaput karena adanya beda konsentrasi antara larutan sebelah menyebelah selaput. Dengan demikian osmosis akan berlangsung sampai adanya keseimbangan antara kepekatan cairan (Harso, 2010).
Komponen potensial air pada tumbuhan terdiri atas potensial osmosis (solut) dan potensial turgor (tekanan). Dengan adanya potensial osmosis cairan sel, air murni cenderung memasuki sel. Sebaliknya potensial turgor di dalam sel mengakibatkan air meninggalkan sel. Pengaturan potensial osmosis dapat dilakukan jika potensial turgornya sama dengan nol yang terjadi saat sel mengalami plasmolisis (Meyer and Anderson, 1952).
Plasmolisis ini terjadi apabila sel berada dalam keadaan tanpa tekanan. Nilai potensial osmosis sel dapat diketahui dengan menghitung nilai potensial osmosis larutan sukrosa yang isotonik terhadap cairan sel. Potensial air murni pada tekanan atmosfer dan suhu yang sama dengan larutan tersebut sama dengan nol, maka potensial air suatu larutan air pada tekanan atmosfer bernilai negatif (Salisbury, 1992).
Osmosis adalah perpindahan air melalui membran permeabel selektif dari bagian yang lebih encer ke bagian yang lebih pekat. Membran semipermeabel harus dapat ditembus oleh pelarut, tapi tidak oleh zat terlarut, yang mengakibatkan gradien tekanan sepanjang membran. Osmosis merupakan suatu fenomena alami, tapi dapat dihambat secara buatan dengan meningkatkan tekanan pada bagian dengan konsentrasi pekat menjadi melebihi bagian dengan konsentrasi yang lebih encer. Gaya per unit luas yang dibutuhkan untuk mencegah mengalirnya pelarut melalui membran permeabel selektif dan masuk ke larutan dengan konsentrasi yang lebih pekat sebanding dengan tekanan turgor. Tekanan osmotik merupakan sifat koligatif, yang berarti bahwa sifat ini bergantung pada konsentrasi zat terlarut, dan bukan pada sifat zat terlarut itu sendiri (Anonimous, 2010).
Plasmolisis merupakan contoh kasus transportasi sel secara osmosis dimana terjadi perpindahan larutan dari kepekatan yang rendah ke larutan yang pekat melalui membran semi permeable Plasmolisis adalah peristiwa lepasnya membran plasma dari dinding sel karena peristiwa osmosis. Peristiwa lepasnya membran sel dari dinding sel (plasmolisis) dapat terjadi jika sel tumbuhan diletakkan di larutan terkonsentrasi (hipertonik), sel tumbuhan akan kehilangan air dan juga tekanan turgor, menyebabkan sel tumbuhan lemah. Tumbuhan dengan sel dalam kondisi seperti ini layu. Kehilangan air lebih banyak akan menyebabkan terjadinya plasmolisis: tekanan terus berkurang sampai di suatu titik di mana protoplasma sel terkelupas dari dinding sel, menyebabkan adanya jarak antara dinding sel dan membrane (Kimball, 1983).

 
Hasil Pengamatan dan Pembahasan

1.      Hasil Pengamatan
Tabel pengamatan sel
No
kadar gula
pengamatan
Jumlah sel
Sel yang lisis
1
0%
1
20
 -
2
131
 -
3
117
 -
2
10%
1
20
 -
2
83
 -
3
75
 -
3
30%
1
43
 -
2
50
 -
3
100
 -
4
50%
1
23
8
2
43
22
3
34
9
5
70%
1
123
87
2
98
81
3
83
73
6
100%
1
62
57
2
64
56
3
68
59
Tabel Pengamatan Plasmolisis
No
Kadar gula
pengamatan
Ket
1
2
3
rata-rata
1
0%
0%
0%
0%
0%
Tdk terjadi plasmolisis
2
10%
0%
0%
0%
0%
Tdk terjadi plasmolisis
3
30%
0%
0%
0%
0%
Tdk terjadi plasmolisis
4
50%
34,78%
51,16%
26,47%
37,47%
terjadi plasmolisis
5
70%
70,73%
82,65%
87,95%
80,44%
terjadi plasmolisis
6
100%
91,93%
87,50%
86,76%
88,73%
terjadi plasmolisis
2.      Pembahasan
Berdasarkan hasil praktikum tekanan osmosis cairan dalam sel, maka dapat membuktikan bahwa sel juga melakukan sirkulasi untuk menunjang kehidupannya, seperti kemampuan  Membran protoplasma untuk mengatur secara selektif aliran cairan dari lingkungan suatu sel ke dalam sel dan sifat permeabel deferensiasinya dapat diketahui dengan adanya proses osmosis yaitu dari peristiwa plasmolisis. Permeabilitas dinding sel terhadap larutan gula diperlihatkan oleh sel-sel yang terplasmolisis.
Bahan yang digunakan adalah Rhoe discolor atau tanaman Adam Hawa karena bagian epidermis bawah tumbuhan ini memiliki pigmen warna keunguan yang memudahkan pengamatan terhadap sel. Bagian epidermis bawah Rhoe discolor disayat dan direndam di dalam larutan glukosa dengan kadar yang berbeda yaitu 0%, 10%, 30%, 50%, 70% dan 100%  selama 15-30 menit, hal ini dilakukan untuk melihat pengaruh perbedaan kadar larutan glukosa atau konsentrasi cairan terhadap tekanan osmosis yang terjadi pada sel. Dilakukan tiga kali pengamatan untuk setiap kadar larutan yang berbeda. Sel tumbuhan Rhoe discolor yang belum diberikan perlakuan nampak berupa susunan sel yang rapat, berbentuk heksagonal dan zat warna atau antocyan pada tanaman ini masih rata tersebar pada permukaan sel.
Rhoe discolor yang direndam pada larutan glukosa berkadar 0% (air mineral), 10%, dan 30% tidak terjadi plasmolisis, hal ini ditunjukkan dengan keadaan sel yang masih berbentuk heksagonal rapat dan tidak adanya sel yang lisis. Sel Rhoe discolor yang direndam larutan glukosa 0% dan 10% Mengalami Tekanan turgor yang lebih tinggi karena konsentrasi larutan diluar sel lebih rendah dari pada konsentrasi larutan didalam sel sehingga cairan bergerak masuk kedalam sel dan menyebabkan kantung sel menggelembung. Sel Rhoe discolor yang direndam didalam larutan glukosa 30% menunjukkan bahwa tekanan osmosis setara dengan tekanan turgornya karena konsentrasi larutan diluar sel dan didalam sel dapat melakukan sirkulasi hingga mencapai keseimbangan atau isotonis.
Sayatan epidermis bawah tanaman Rhoe discolor yang direndam pada larutan glukosa 50%, 70%. Dan 100%  mengalami plasmolisis, hal ini ditunjukkan dengan adanya sel yang lisis yaitu sel yang renggang dan berbentuk tidak beraturan. Plasmolisis terjadi karena cairan di luar sel bersifat hypertonis atau lebih pekat sedangkan larutan di dalam sel bersifat hypotonis atau lebih encer sehingga cairan di dalam vakuola bergerak keluar sel sehingga protoplasma mengkerut dan terlepas dari dinding sel. Molekul gula dapat berdifusi melalui benang-benang protoplasma yang menembus lubang-lubang kecil pada dinding sel. Benang-benang tersebut dikenal dengan sebutan plasmolema, dimana diameternya lebih besar daripada molekul tertentu sehingga molekul gula dapat masuk dengan mudah.
Semakin tinggi kadar larutan glukosa yang diberikan maka semakin cepat terjadinya plasmolisis dan semakin tinggi tekanan osmosis yang terjadi pada sel tumbuhan tersebut, semakin tinggi tekanan osmosisnya maka tekanan turgor akan semakin menurun, Sehingga persentasi plasmolisis tertinggi terdapat pada pengamatan dengan kadar glukosa 100%, selanjutnya 70% dan terendah pada larutan glukosa 50%. Persentasi terjadinya plasmolisis dapat dihitung dengan persamaan berikut :
 x 100 %  = …
sel yang berplasmolisis =  x 100%

Dengan menggunakan persamaan diatas maka dapat dibuktikan bahwa besar kecilnya persentasi plasmolisis dipengaruhi oleh kadar larutan glukosa terlarut yang melisiskan sel. Semakin tinggi kadar larutan glukosa maka semakin banyak sel yang lisis sehingga persentasi plasmolisis juga semakin besar.

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous.  2009 . Plasmolisis ((http://www.wikipedia.co.id\ searchengine=
plasmolisis.htm (diakses pada tanggal 25 Oktober 2010, pukul 16.00).

Bennymorigan.  2009 . Penentuan Tekanan Osmotis Cairan Sel. (diakses pada tanggal 26 Oktober 2010, pukul 21.10).

Dwidjoseputro, D .  1994 . Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia
Pustaka Tama : Jakarta.

Harso, Wahyu . 2010 . Penuntun Praktikum Fisiologi Tumbuhan . Laboratorium Biologi Fakultas MIPA Universitas Tadulako : Palu.

  Kimball, J. W. 1983. Biologi. Erlangga : Jakarta.

Meyer, B.S and Anderson, D.B. 1952. Plant Physiology. D Van Nostrand Company Inc : New York.

Salibury, dkk. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 1. ITB : Bandung.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar